90 Days-Lembaran Baru

 

2. Lembaran Baru

Hari ini adalah hari pernikahan ibu. Semuanya berjalan lancar, tapi daritadi aku tak melihat Dika. Kata papah Dika sakit jadi dia tidur di kamar dan akan telat hadir di acara. Kalian tau? dari awal aku masuk ke ruangan ini, semua mata memandangku tak berkedip. Aku akui hari ini aku terlihat sangat cantik haha, dengan balutan dress putih, rambut ditata dengan cantik, dan polesan make up natural bergaya korea sangat pas di wajahku. Aku pergi mengambil minuman yang ada di meja, sementara ibu dan papah sedang bertemu rekan papah. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Aku menengok ke belakang, ternyata ada malaikat tak bersayap turun dari kayangan. gila, Dika tampan sekali. Setelan jas silver dengan bunga di saku jas, rambut cetar membahana, bulu mata letik, kulit putih, dan bibirnya yang ranum membuat siapapun yang melihatnya seketika lemah jantung. Aku menatapnya tak berkedip, badannya sangat harum.

"biasa aja kali liatnya. gue tau gue tampan, tapi ga usah sampe mangap-mangap gitu macan pink haha" Apa? macan pink, dia sedang membicarakan kejadian waktu itu. 

"yak, laki-laki tak sopan, masuk kamar perawan seenaknya!" Aku melangkahkan kaki menjauh darinya, pipiku pasti merah sekarang.

Acara pernikahan berjalan lancar. Kami pulang ke rumah papah karena sekarang kami sudah pindah ke rumah papah. Aku merasa seperti Cinderella, berubah dari upik abu menjadi seorang putri. rumah minimalis berganti jadi istana megah, motor bebek kesayanganku berganti jadi mobil sport warna merah, kebun cabe depan rumah berganti jadi taman besar dengan patung pancuran di tengahnya. Di belakang rumah juga ada lapangan golf+mobil golf. Kamarku yang dulunya depan ruang tamu sekarang harus naik lift ke lantai 5. Gila bukan? sekaya itu papahku. Ah iya, papah bercerita kalo istrinya dulu pergi meninggalkannya ketika papah masih orang biasa. Karena papah berasal dari Inggris, sedangkan istrinya pribumi, jadi ketika Dika masih kecil istrinya mencari lelaki kaya dan meninggalkan papah. 

Pagi ini aku sudah bersiap untuk ke sekolah, aku masih tidak terbiasa dengan kemewahan ini. Baju sudah tersedia di kasur, air hangat sudah siap di kamar mandi, dan sepatu sudah bersih mengkilat. Ini semua berkat para pembantu disini. Aku keluar kamar, kamar Dika dan kamarku bersebelahan, sepertinya Dika sudah turun terlebih dahulu. Ketika aku ke ruang makan terlihat papah dan ibu yang sudah duduk di meja makan. Eh, tunggu, kenapa seragam Dika sama dengan seragamku? jangan-jangan..

"selamat pagi sayang" ucap papah.

"hari ini kalian berangkat bersama ya kerena supir Difa sedang ada urusan jadi tak ada yang mengantarkanmu"

"GAK MAU!" ucapku dan Dika kompak. Selama ini Dika satu sekolah denganku? pantas wajah Dika seperti tidak asing. Kalian pasti paham, murid baru pasti sangat jeli terhadap kakak kelas, dan waktu ospek banyak anak perempuan yang membicarakan kakak kelas bule, ternyata Dika. Sebelumnya aku pernah melihat foto Dika di hp temanku makanya aku merasa familiar.

"Tidak ada penolakan, nanti kalian kesiangan, cepat sarapannya. Kalian kan satu sekolah, apa salahnya kalian pergi sekolah bareng" 

"emm, tidak usah pah, aku berangkat sama Rafa aja, nanti aku minta jemput Rafa" aku mencoba menelepon Rafa.

"Raf, hari ini kita bisa berangkat bareng?"

"...."

"oh yaudah gapapa, hati-hati di jalan ya" Rafa menutup teleponku, agak aneh mendengar suara Rafa. Tidak biasanya dia bisik-bisik saat menelepon di depan ibunya.

"gimana? bisa dijemput?" aku menggeleng.

"yaudah ayo, lu lelet gue tinggal" ucap Dika melenggang pergi

"pah, bu Difa pergi dulu" aku mengikuti langkah Dika yang sangat cepat. Sepanjang jalan hanya ada keheningan. Ketika mobil akan keluar dari komplek di depan rumah aku melihat mobil Rafa terparkir di rumah itu. 

"Dika, berenti sebentar" ucapku, Dika bingung dan mengikuti arah pandanganku. Keluar sepasang remaja, remaja perempuan dengan perut besar dan apa? itu Rafa. Rafa mencium perut gadis itu, aku melihatnya dengan jelas. Mataku tak tahan, tanganku mengepal, nafasku memburu. Aku keluar dari mobil Dika dan menghampiri pasangan menjijikan itu. 

"Rafa? apa ini? kamu bilang kamu mau nganter mama kamu ke rumah sakit? oh ini mama kamu? muda banget yah?" emosiku tak tertahankan

"siapa itu sayang?"

Apa? sayang? aku tak salah dengar kan? dia siapa? itu anak siapa? 

"maafkan aku, kita harus selesain semua ini. Maaf setahun ini aku berbohong padamu. Maaf setahun ini aku menyakitimu. Ini calon istriku, dan ini anakku, aku mau keluar sekolah dan nikah sama Kyra. Maaf aku baru jujur, aku ga sanggup bilang sama kamu. Aku salah, aku tau aku salah Difa, sangat salah. semua terjadi gitu aja, aku gatau aku ga sadar. Aku emang bajingan munafik, aku nyakitin kamu." 

Rafa bersujud di kakiku. Haha, konyol setiap hari aku bersamanya, semuanya kulakukan demi dirinya, bahkan aku memilih menolak beasiswa SMA ternama demi dirinya. Tapi ini balasannya? Susah payah aku berdiri supaya tidak ambruk, badanku lemas mendengarnya. Tuhan, ini masih pagi kenapa kau memberikan kejutan seperti ini. 4 tahun aku bersamanya, dia berjanji pada ayah akan menikah denganku setelah lulus SMA, tapi apa ini. Aku lari ke mobil Dika, Dika langsung mengikutiku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak peduli dengan tatapan Dika.

grep.. tiba-tiba Dika memelukku, mengusap rambutku tanpa bertanya apapun. Pelukan ini membuatku tenang.

"menangislah, jangan ditahan, gapapa baju gue basah gue rela." ucapan Dika tadi membuatku melepas semua yang tertahan. Setelah tenang Dika mengajakku ke Taman bermain, kami tidak pergi ke sekolah. Hari ini kami bolos, tadi Dika menelepon ibu dan menceritakan semuanya jadi tadi ibu menelepon walikelas Dika dan aku untuk izin tidak masuk sekolah.

"NADIFA!" 

"hah? lo apaan si teriak-teriak malu-maluin aja" aku kesal, Dika berteriak dan itu membuat semua tatapan tertuju pada kami.

"lo gue panggil daritadi ga denger mulu, gue kira lu ganteng"

"hah? ganteng, gue cewe bego. gue cantik bukan ganteng"

"dih pede banget lu, ganteng, gangguan telinga oon haha" Dika menoyor kepalaku dan lari menjauhiku. Kali ini aku tak marah karena berkat Dika aku bisa melupakan sejenak masalahku. 

Seharian ini kami bermain di taman, tidak terasa sekarang sudah pukul 8 malam. Kami memutuskan pulang. Dika membelikanku banyak makanan mulai dari susu, sosis bakar, siomay bandung, pempek, seblak, dan coklat. Dia ingin membuatku gemuk sepertinya, tapi tak apa ini akan membantuku melupakan Rafa.

Setelah sampai rumah aku langsung masuk ke kamar, aku melirik meja nakas di samping kasurku, ada foto aku yang sedang digendong Rafa. Aku melirik kasur, ada boneka chimmy pemberian Rafa. Di tanganku juga terdapat cincin mas putih pemberian Rafa. Ahh, semuanya tentang Rafa, Aku stres, aku tertekan. Seminggu aku tak masuk sekolah, aku tak keluar kamar, bahkan makan pun di simpan di depan pintu kamar. Semua orang tak ada yang bisa membujukku. 

tok.. tok.. tok..

"Difa cantik, kakakmu yang manis dan tampan ini merindukanmu. Ayo keluar cantik, belanja yu, aku traktir kau bisa pakai uangku sesukamu. gue eh aku ga akan kasar lagi sama kamu, ga akan jail, ga akan nakal, janji deh macan pink eh adikku tersayang. Yu keluar yu" terdengar suara Dika dibalik pintu, aku tersenyum mendengar bujukannya. Akhirnya aku membuka pintu dan terlihat Dika membawa buah-buahan di tangannya. 

"ah Difaku akhirnya kau membukakan pintu untuk kakak tampanmu ini" Dika melirik tanganku, banyak luka goresan disana. Senyum manisnya memudar dan berubah jadi datar, telinganya merah seperti akan meledak. Aku tau dia marah, jadi aku refleks menutup mata dan telinga supaya tak mendengar ocehannya.

"YAK!!! APA INI, TANGANMU, OH TIDAK! TANGAN MULUSMU SEPERTI DI CAKAR MACAN! AISH AKU TAU KAU MACAN PINK TAPI MACAN TAK AKAN MELUKAI DIRI SENDIRI. DASAR MACAN BODOH!" benar kan dugaanku, dia pasti akan mengoceh. Ocehannya seperti ijab qabul, sekali nafas biar sah. 

"Sayang, aku tau kamu kecewa sama mantanmu, tapi ga gini juga. Banyak yang sayang sama kamu. Jangan nyakitin diri sendiri, harusnya kamu bersyukur Tuhan udah liatin yang sebenarnya, biar kamu ga lebih sakit hati. Banyak cowo di dunia ini, hilih ganteng aja kaga, muka kek pantat curut aja di tangisin sampe berhari-hari. Dahlah, butuh ojek pribadi, aku kan ada, abangmu yang cakep ini ready 24 jam khusus untukmu kecuali dalam mode tidur haha" Ocehannya membuatku tertawa geli. Andai aku merekam ini dan menunjukkan pada kalian pasti kalian akan gemas melihat wajah dia. Dika berjalan ke arah kasur, mengambil P3K dan mengobati luka di tanganku. Seharian ini Dika diam di kamarku, bermain game bersama, karaokean, bercanda, bahkan Dika berubah menjadi pelawak dadakan. Dia sangat lucu, melakukan segala cara supaya aku kembali tersenyum. Aku ga tau apa yang aku rasain sekarang, rasanya nyaman, tenang, dan bahagia merasakan momen ini. 

"tidurlah, udah malem, besok sekolah ya, lo pake sweater aja bilang kalo lo sakit, besok berangkat sama gue" Dika mengusap rambutku dan mengecup pucuk kepalaku. Apa itu? hah, apa aku mimpi? anak tengil itu manis sekali.

"heh anak tengil, katanya lo gabakal ngomong lo gue lagi"

"ah kaga enak, mending gini aja, geli gue lama-lama ngomong begitu" Dika menghilang dibalik pintu. Ah, terima kasih abang tengil sekarang hatiku lebih baik. Akupun tertidur dengan nyenyak.


Bersambung..


Komentar